NASIB PERANTAU MISKIN (Eps. 1)
Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Remang-remang lampu kota, jalanan yang lenggang dan beberapa warung malam adalah pemandangan milik bapak tua yang sedang mengkayuh sepedanya. Dinginnya malam sudah tak bisa ia rasakan lagi. Peluhnya terus menetes hingga kaosnya basah, namun ia tak merasakan gerah. Beberapa meter lagi ia akan berhenti sejenak untuk meneguk air yang tinggal tak seberapa di dalam botolnya. Waktu bergerak cepat, hingga ia tak inginkan tidur walau sebentar karena ia takut akan membuang waktunya. Ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya dengan berbagai bekal yang diletakkan di samping kanan dan kiri bahkan di belakang badan sepeda rampingnya hingga lebarnya pun jika diamati akan hampir seperti lebar mobil mini. Kayuhannya lebih cepat karena ia sedang membayangkan betapa bahagianya ia ketika ia sampai rumah yang selama ini ia rindukan.
Baginya, rumah bukan hanya sebuah bangunan perlindungan. Lebih dari itu, rumah ialah tempat hangat untuk menghabiskan waktu dan membagikan segala cerita petualangannya dengan orang-orang tersayang. Segala peluh yang mengucur, hawa dingin yang ia terobos, dan masih banyak hal yang ia korbankan akan menjadi kebahagiaan.
Baginya, rumah bukan hanya sebuah bangunan perlindungan. Lebih dari itu, rumah ialah tempat hangat untuk menghabiskan waktu dan membagikan segala cerita petualangannya dengan orang-orang tersayang. Segala peluh yang mengucur, hawa dingin yang ia terobos, dan masih banyak hal yang ia korbankan akan menjadi kebahagiaan.
Sebelumnya, ia berfikir ia akan selalu terjebak di kota perantauan hanya karena tak punya uang untuk membeli tiket pulang. Semua pasti tahu bagaimana kerasnya bertahan hidup di kota besar tanpa memiliki keahlian. Bapak tua itu setiap harinya hanya menjual baju-baju bekas. Ia mengorbankan hidup jauh dengan keluarga agar dapat menghidupi mereka dan membangun kehidupan yang lebih baik tanpa tumpukan hutang. Nyatanya, semua tidak seperti apa yang dibayangkan sebelumnya. Malamnya setelah ia berjualan, ia bekerja sambilan dengan menjadi tukang becak di tempat wisata. Beberapa tahun kemudian, ia mulai tidak bisa membendung rasa rindu. Bagaimana tidak, impian merantau agar kehidupannya lebih baik dengan mengorbankan kehidupannya jauh dengan keluarga ternyata tidak terwujud. Maka, ia memutuskan untuk kembali pulang dan akan melanjutkan usaha bengkel sepeda di desa nya. Jarak beribu kilometer tidak membuatnya gentar untuk mengurungkan niatnya pulang. Perantau miskin itu ingin bertemu dengan keluarganya segera. Ia tak sabar untuk memeluk mereka. Sepeda itu terus dikayuhnya dengan semangat walau kaki sudah seperti mati rasa. Di tempat peristirahatan yang entah keberapa, ia berfikir apakah uang yang ia bawa akan cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Tapi, ia tidak menyesal kepada keputusannya untuk segera kembali pulang karena rasa rindunya sudah tidak bisa dinegosiasi lagi.
Sebentar lagi pukul enam pagi dan pasti akan banyak ibu-ibu yang ramai ke pasar untuk berbelanja. Kemudian ia mendekati orang yang baru saja membuka toko untuk menanyakan dimana letak pasar terdekat. Ia memutuskan untuk mampir ke pasar. Sesampainya di pasar, ia memarkirkan sepedanya dan menurunkan bekal-bekal yang ia bawa tadi yang tak lain adalah dagangannya yang tak kunjung laku ketika masih di kota perantauan. Bapak tua itu kemudian menata dagangannya dengan alas kain seadanya yang ia bawa dan berharap dagangannya terjual banyak. Beberapa jam berlalu. Kini sudah pukul sebelas lewat dan dagangannya baru beberapa yang terjual. Namun, ia tetap bersyukur. Hari sudah siang, ia pun membereskan dagangannya dan mulai mengkayuh sepeda untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang.
Sebentar lagi pukul enam pagi dan pasti akan banyak ibu-ibu yang ramai ke pasar untuk berbelanja. Kemudian ia mendekati orang yang baru saja membuka toko untuk menanyakan dimana letak pasar terdekat. Ia memutuskan untuk mampir ke pasar. Sesampainya di pasar, ia memarkirkan sepedanya dan menurunkan bekal-bekal yang ia bawa tadi yang tak lain adalah dagangannya yang tak kunjung laku ketika masih di kota perantauan. Bapak tua itu kemudian menata dagangannya dengan alas kain seadanya yang ia bawa dan berharap dagangannya terjual banyak. Beberapa jam berlalu. Kini sudah pukul sebelas lewat dan dagangannya baru beberapa yang terjual. Namun, ia tetap bersyukur. Hari sudah siang, ia pun membereskan dagangannya dan mulai mengkayuh sepeda untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang.
Comments
Post a Comment