NASIB PERANTAU MISKIN (EPS. 2)

Tak lama kemudian nafasnya mulai tersengal mungkin karena tenaga usianya yang hampir kepala lima. Pandangannya mulai kabur. Ia menggeleng-nggelengkan kepala, berharap penglihatannya kembali normal. Dilihatnya lagi jalan yang didepannya kini nampak seperti ada genangan air, kendaraan yang berlalu lalang menjadi semakin kabur, pendengarannya kini mulai berkurang dan berdengung. Ia sadar bahwa ia saat ini butuh istirahat. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia kayuh sepedanya dengan pelan sembari melihat-lihat tempat yang tepat untuk dijadikan tempat peristirahatan. Tiga meter dari jarak pandangnya, ia menemukan warung makan kecil untuk dijadikan tempat peristirahatan sekaligus mengisi tenaganya. Warung makan itu terdapat spanduk di  yang disematkan di atas atap menggantung yang bertuliskan "Warung Mbok Inem". Bapak tua itu menyandarkan dengan pelan sepeda nya ke tiang bambu di depan warung. Ia berjalan lunglai layaknya orang yang kehabisan tenaga. Seorang ibu tua yang umurnya mungkin sudah diatas tujuh puluh tahun mengamatinya. Ia tampak sempoyongan seperti akan pingsan. Lalu, ibu tua itu yang tak lain adalah si pemilik warung langsung tergopoh-gopoh menghampiri bapak dan memapahnya masuk ke warung. Tidak lama kemudian teh hangat dan nasi yang berlauk sederhana diberikan kepadanya. Ia tanpa basa-basi melahapnya dengan cepat layaknya orang yang sedang kelaparan. Setelah menghabiskan makananannya, ia kemudian menceritakan perihal kehidupan merantaunya dan perjalanannya menuju kampung halaman. Ibu tua itu tampak bersimpati mendengar ceritanya. Sebelum menceritakan lebih jauh lagi, ibu tua itu menanyakan perihal nama dan daerah kampungnya. Ternyata bapak tua itu berasal dari daerah timur dan orang-orang kampungnya biasa memanggilnya Pak Di.



Comments

Popular Posts